Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz
Bagian
Pertama dari Dua Tulisan [1/2]
Barangsiapa merenungi Kitabullah
dan senantiasa berhubungan dengannya, maka akan mendapatkan kemuliaan akhlak.
Dan barangsiapa yang mengkaji sunnah-sunnah Nabi, yaitu perjalanan hidup
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan hadits-haditsnya, akan mendapatkan
dan memahami kemuliaan akhlak dan keagungannya. Untuk itulah Allah kembali
menegaskan kemuliaan akhlak itu pada akhir Surat Al-Furqan.
Allah
berfirman :
"Artinya : Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha
Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati
dan apabila orang-orang yang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata
(yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud
dan berdiri untuk Rabb mereka. Dan orang-orang yang berkata : 'Ya Rabb kami,
jauhkan adzab jahannam dari kami, sesungguhnya adzabnya itu adalah kebinasaan
yang kekal'. Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat
kediaman. Dan apabila orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka
tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu)
ditengah-tengah antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak menyembah Ilah
yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah
(membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa
yang melakukan demikian ini, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya)".
[Al-Furqan : 63-68]
Maksudnya, barangsiapa menyekutukan Allah atau
membunuh jiwa dengan tanpa alasan, atau melakukan perzinaan, maka akibat
perbuatannya itu dia akan mendapatkan dosa, yaitu siksaan yang besar. Lalu Allah
menjelaskannya dengan ayat-ayat berikut ini :
"Artinya : (Yakni) akan
dilipat gandakan adzab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam adzab
itu, dalam keadaan terhina". [Al-Furqan : 69]
Mereka berada dalam
siksaan, kecuali :
"Artinya : Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman
dan mengerjakan amal shalih ; maka mereka itu kejahatan mereka diganti Allah
dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang
yang bertaubat dan mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya dia bertaubat
kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya". [Al-Furqan :
70-71]
Ini semua cerminan dari akhlak Ahlul Iman laki-laki dan wanita.
Kemudian Allah melanjutkan firman-Nya :
"Artinya : Dan orang-orang yang
tidak memberikan persaksian palsu". [Al-Furqan : 72]
"Laa yasyhadun"
(tidak memberikan persaksian) maksudnya yaitu "la yahdhurun" (tidak melakukan).
Adapun yang dimaksud dengan "Az-Zuur" (palsu, dusta) yaitu kebathilan dan
kemungkaran dari berbagai bentuk kemaksiatan dan kekafiran. Ahlul Iman adalah
mereka mereka yang tidak memberikan persaksian palsu, bahkan mereka adalah orang
yang mengingkari serta memeranginya.
Firman Allah
"Artinya : Dan
apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan
yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya".
[Al-Furqan : 72]
Lebih dari itu, Ahlul Iman akan menolak perbuatan yang
tidak mendatangkan faedah, sebagaimana firman Allah berikut :
"Artinya :
Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling
daripadanya dan mereka berkata : 'Bagi kami amal-amal kami dan bagimu
amal-amalmu..." [Al-Qashash : 55]
"Artinya : Dan orang-orang yang apabila
diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah mengahadapinya
sebagai orang-orang yang tuli dan buta". [Al-Furqan : 73]
Bahkan mereka
mengahadapinya dengan khusyuk serta menerima sepenuhnya terhadap Allah dan
sekaligus mengagungkan-Nya. Inilah sifat mukminin dan mukminat apabila
diingatkan dengan ayat-ayat Allah mereka nampak khusyuk dan lembut hatinya serta
mengagungkan Rabbnya bahkan menangis lantaran rasa takut kepada-Nya. Mereka
melakukan itu karena mengharap pahala dari-Nya dan takut akan
siksa-Nya.
Allah berfirman :
"Artinya : Dan orang-orang yang
berkata : 'Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan
keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi
orang-orang yang bertaqwa". [Al-Furqan : 74].
Ini semua merupakan
sifat-sifat mukminin dan mukminat, mereka adalah Ibadurrahman (Hamba-hamba
Allah) yang hakiki lagi sempurna.
Qurratul 'Ain (penyejuk mata) adalah,
manakala engkau melihat anak-anakmu, baik laki-laki atau perempuan semuanya
melaksanakan amal shalih. Kata-kata "al-walad" secara umum mencakup laki-laki
dan wanita. Anak laki-laki sering dipanggil dengan sebutan ibnu, sedang
perempuan dipanggil dengan bintu.
Demikian pula kata-kata "dzurriyah"
yang mencakup laki-laki dan juga perempuan. Hal ini sebagai mana tersebut dalam
hadist :
"Artinya : Apabila anak Adam (manusia) meninggal, terputus
amalnya kecuali tiga perkara ; shadaqah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan atau
anak shalih yang mendo'akannya".
Anak atau al-walad, termasuk di dalamnya
adalah anak laki-laki atau perempuan, hal ini sebagaimana penjelasan di depan.
Allah mempertegas hal ini dalam firman-Nya :
"Artinya : Ya Rabb kami,
anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang
hati (kami)...." [Al-Furqan : 74]
Yakni, dzurriyah (generasi) yang
menyejukkan pandangan mata. Hal itu disebabkan karena kondisi anak keturunan
yang taat kepada Allah dan istiqamah di atas syari'at-Nya. Demikianlah kondisi
kehidupan suami istri, seorang suami misalnya, apabila melihat istrinya taat
kepada Allah, maka pastilah sejuk matanya (senang hatinya). Demikian pula istri,
apabila melihat suaminya taat kepada Allah tentulah senang hatinya. Ini terjadi
manakala istri adalah sosok wanita mukminah. Suami yang shalih adalah penyejuk
mata bagi istrinya, demikian pula istri shalihah adalah penyejuk mata bagi
suaminya yang mukmin. Generasi yang baik (dzuriyatan thayyibah) adalah penyejuk
mata bagi ayahnya, ibunya dan seluruh kerabat mukminin dan mukminat.
Allah berfirman :
"Artinya : Dan jadikanlah kami imam bagi
orang-orang yang bertaqwa". [Al-Furqan : 74]
Imam bagi orang-orang yang
bertaqwa, yakni ; imam dalam kebaikan yang mampu membimbing manusia. Kemudian
Allah menegaskan balasan yang bakal diperoleh mereka, yaitu :
"Artinya :
Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam jannah)".
[Al-Furqan : 75]
Ghurfah adalah jannah. Disebut ghurfah karena
ketinggiannya, sebab ia berada di tempat yang sangat tinggi, yaitu di atas
langit dan di bawah 'Arsy. Jannah itu berada di tempat yang sangat tinggi, oleh
karena itu Allah berfirman :
"Artinya : Mereka itulah orang-orang yang
dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam jannah)". [Al-Furqan :
75]
Ghurfah (balasan yang tinggi) yakni, al-jannah. Hal ini diperoleh
karena kesabaran mereka (bimaa shabaruu). Maksudnya adalah kesabaran dalam
mentaati Allah, kesabaran menahan yang diharamkan Allah dan kesabaran atas
musibah yang menimpa. Ketika mereka menerima dengan sabar, maka Allah membalasi
mereka dengan al-jannah yang tinggi dan agung. Manakala mereka sabar menunaikan
kewjibannya terhadap Allah, sabar terhadap yang diharamkan Allah, sabar menerima
musibah yang memedihkan, misalnya ; sakit, kemiskinan dan selainnya, maka Allah
akan membalasi mereka dengan sebaik-baik balasan.
Allah berfirman
:
"Artinya : Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang
tinggi (dalam jannah), karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan
penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Jannah
itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman". [Al-Furqan :
75-76]
Inilah cerminan sifat-sifat Ahlul Iman yang utuh, baik kalangan
laki-laki atau wanita. Mereka pula yang Ahlus Sa'adah wan Najah (pemilik
kemuliaan dan kesuksesan). Di dalam Al-Qur'an Allah Subhanahu wa Ta'ala banyak
menyebutkan sifat-sifat mukminin dan mukminat serta akhlak mereka yang mulia. Di
antaranya sebagaimana tersebut dalam surat Al-Baqarah, Allah berfirman
:
"Artinya : Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu
suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada
Allah, Hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan
harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin,
musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta ; dan
(memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat ; dan
orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang
sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah
orang-orang yang benar (imannya) ; dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa".
[Al-Baqarah : 177]
Inilah keadaan orang-orang yang bertaqwa dari baik
laki-laki maupun perempuan. Allah telah menjelaskan sifat-sifat mereka dalam
ayat yang mulia ini.
"Artinya : ..... akan tetapi sesungguhnya kebaktian
itu ialah beriman kepada Allah ..".
Makna ayat tersebut ialah : Akan
tetapi, pemilik kebajikan yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari
akhir, malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi. Iman kepada Allah dalam pengertian,
Allah sebagai Rabb dan Ilah yang Maha Suci lagi Maha Agung. Mereka juga
mengimani Allah sebagai tempat pengabdian yang sebenar-benarnya, bahwa
sesungguhnya Allah adalah Dzat Pencipta, dan Dzat Pemberi rezeki. Dialah yang
Maha Suci dan disifati dengan Asma'ul Husna dan sifat-sifat yang tinggi. Tidak
ada yang sebanding dengan-Nya, tidak ada tandingan bagi-Nya. Dialah yang Maha
Sempurna dalam dzat, dalam sifat-sifat, dalam nama-nama dan dalam perbuatan-Nya.
Dialah dzat yang tidak terdapat pada-Nya kekurangan dari berbagai seginya,
bahkan Dialah yang mempunyai kesempurnaan yang mutlak dari berbagai
segi.
Allah berfirman :
"Artinya : Katakanlah :'Diallah Allah,
Yang Maha Esa'. Allah adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia
tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara
dengan Dia". [Al-Ikhlas : 1-4]
[Disalin dari buku Akhlaqul Mukminin
wal Mukminat dengan edisi Indonesia Akhlak Salaf Mukminn & Mukminat, oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz, hal 17-27, Terbitan Pustaka At-Tibyan,
penerjemah Ihsan]