Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Maret 2012

KITA WAJIB MEMPERBAIKI DIRI KITA SENDIRI TERLEBIH DAHULU


Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah penafsiran ayat :

"Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu ; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk" [Al-Ma'idah : 105]

Dan bagaimana pendapat Syaikh tentang ini ?

Jawaban.
Perkataan kami tentang (ayat) tersebut adalah seperti yang dikatakan Allah Subhanahu wa Ta'ala ; bahwa sesungguhnya Allah memerintahkan kita untuk memperbaiki diri-diri kita, dan agar kita menjaga keshalihan kita, dan jika tersesat siapapun yang tersesat dari kalangan manusia maka hal itu tidaklah mendatangkan mudharat, sebagaimana yang dikatakan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada NabiNya Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka, tetapi orang yang berpaling dan kafir, maka Allah akan mengadzabnya dengan adzab yang besar" [Al-Ghasyiyah : 21-24]

Seorang insan jika ia mendapatkan petunjuk maka orang yang durhaka tidaklah akan mencelakainya, namun jika manusia tidak mengubah kemungkaran maka dikhawatirkan Allah akan meratakan adzab dariNya kepada mereka, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaanNya" [Al-Anfal : 25]

Mereka para pelaku maksiat itu tidak akan mendatangkan mudharat kepada anda ketika di akhirat, mereka tidak dapat mengurangi (pahala) kebaikan-kebaikan anda atau menambah dosa-dosa anda. Kecuali jika anda telah melalaikan kewajiban dakwah kepada Allah, dan amar ma'rif serta nahi mungkar, maka hal tersebut tentu saja akan mencelakakan anda, mudharat itu tidak berasal dari mereka namun justru dari diri anda sendiri.

Karena anda belum melaksanakan kewajban hingga dapat dikatakan bahwa anda belum mendapat petunjuk, karena Allah mempersyaratkan dengan mengatakan.

"Artinya : Tidaklah (dapat) mencelakaimu orang yang tersesat apabila engkau mendapat hidayah" [Al-Ma'idah : 105]

Sudah dimaklumi, bahwa orang yang meninggalkan amar ma'ruf, nahi mungkar dan dakwah kepada Allah yang wajib itu adalah sungguh belun mendapat petunjuk dengan sempurna.



[Disalin dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyah Dhawabith wa Taujihat, edisi Indonesia Panduan Kebangkitan Islam, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, terbitan Darul Haq]

KEWAJIBAN DA'I ADALAH BERDAKWAH KEPADA ALLAH WALAUPUN MANUSIA MENCELANYA.


Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin


Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah hukum orang yang saya dakwahi kepada Allah Azza wa Jalla namun mereka mencela atau memperolok-olok hal tersebut ? Dan apakah boleh saya memutuskan (hubungan) dengan mereka ; karena mereka mengatakan sesungguhnya dakwah anda itu seharusnya untuk keluarga (anda) saja ?

Jawaban.
Sesungguhnya yang wajib atas seorang da'i adalah (tetap) berdakwah walaupun manusia meremehkan atau memperolok-olokannya, karena sesungguhnya rasul paling pertama Nuh 'Alaihi Salam dihina oleh kaumnya, akan tetapi ia mengatakan.

"Artinya : Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami)" [Hud : 38]

Dan tidak tersamar lagi semuanya firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) mentertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lalu ia di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan : "Sesunguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat", padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang maukmin. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang" [Al-Muthaffifin : 29-35]

Maka anda wajib mendakwahi mereka walaupun mencela anda, akan tetapi dalam pandangan saya seandainya anda mendakwahi orang seperti mereka satu persatu maka itu akan lebih baik. Artinya anda memegang satu dari mereka secara tersendiri lalu anda mendakwahinya kepada Allah, demikianlah sampai anda memisah-misahkan kesatuan mereka (untuk didakwahi,-pent). Barangkali inilah yang termasuk dalam sikap hikmah.


[Disalin dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyah Dhawabith wa Taujihat, edisi Indonesia Panduan Kebangkitan Islam, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, terbitan Darul Haq]

KELUARGAKU SELALU MENCELAKU DAN SUAMIKU. APA YANG MESTI KUPERBUAT ?


Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz


Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Saya seorang terhormat di sebuah negeri yang kacau dan dalam keluarga besar yang tidak berpegang pada ajaran agama Islam, kecuali hanya shaum, bahkan mereka semuanya tidak ada yang shalat. Sebelum menikah, saya berkenalan dengan beberapa orang pemudi yang diberikan karunia petunjuk oleh Allah. Merkapun mengenakan hijab. Dan dengan keutamaan yang diberikan oleh Allah, saya pun ikut mengenakan hijab, dan mulai mekasanakan shalat, membaca dan menghapal Al-Qur’an. Saya juga banyak mempelajari fikih dan hukum-hukum agama Islam. Keluarga saya selalu mengejek saya dan bahkan menyerang saya, terutama bila saya menasihati mereka. Kemudian Allah memberikan karunia kepada saya dengan adanya seorang lelaki yang taat beragama yang menikahiku, dengan kerelaan keluargaku. Meski demikian mereka tetap selalu mengejek kami dan menghina kami dengan berbagai macam cara dan upaya. Mereka seringkali memintaku untuk melepaskan hijab dan menghina suamiku karena dia miskin.

Alhamdulillah, Allah memberikan karunia kepada kami, saya dan suami saya, untuk bekerja di Saudi Arabia ini. Namun keluarga saya masih mengejar kami dengan menghina dan melecehkan kami melalui surat dan sejenisnya. Mereka meminta saya agar menuntut suami saya itu menceraikan saya. Mereka terus menekankan hal itu dan membenci saya karena kondisi saya ini, bahkan sempat mendoakan agar saya tidak dikarunia anak.

Itulah problem saya. Saya meminta anda memberikan petunjuk, apa yang harus saya perbuat ?

Jawaban
Kalau masalahnya seperti yang saudari ungkapkan, pujilah Allah dan banyak-banyaklah bersyukur kepadaNya terhadap hidayah yang Allah berikan kepada saudari untuk mengenal dan melaksanakan Islam, bahkan memudahkan saudari untuk mendapatkan suami yang shalih yang dapat menolong saudari menjalankan ketaatan kepada Allah. Tidak diragukan lagi, bahwa keutamaan itu adalah karunia Allah kepada kalian berdua. Kalian harus mensyukurinya dan mengingat Allah agar Allah menambahkan keutamaanNya dan meneguhkan kalian dalam kebenaran, sebagaimana firman Allah.

“Artinya : Dan (ingatlah juga), tatkala Rabb-mu memaklumkan : ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu..” [Ibrahim : 7]

Allah juga berfirman.

“Artinya : Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” [Al-Baqarah : 102]

Kami pesankan kepada kalian berdua agar bertakwa kepada Allah dan mendalami ajaran Islam, tetap setia kepada suami, selalu mendengar dan mentaati suami dalam kebaikan, serta tidak mentaati keluarga saudari untuk bercerai dengan suami saudari atau dalam melakukan maksiat lainnya.

Kami berpesan kepada kalian berdua agar saling bekerjasama melaksanakan kebajikan dan ketakwaan serta tetap berbuat baik kepada keluarga saudari, mendoakan mereka agar mendapatkan hidayah dan menjadi orang-orang shalih, kemudian menanggapi semua pebuatan buruk mereka dengan tetap bersikap baik, bahkan memberikan sedekah kepada mereka selain zakat. Karena orang miskin yang tidak shalat, tidak boleh mendapatkan hak zakat. Karena tidak menunaikan shalat adalah kekufuran besar, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Pemisah antara kita dengan orang-orang kafir adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkan shalat, berarti dia kafir” [Dikeluarkan oleh Ahmad dan Ahlus Sunnan dengan sanad yang shahih]

Demikianlah. Kami memohon kepada Allah untuk kebaikan anda dan suami anda agar tetap teguh dalam kebenaran, serta mendapatkan taufiq untuk mendalami ajaran Islam, serta mendapatkan keselamatan dari berbagai bencana yang menyesatkan. Sesungguhnya Allah itu Maha Mendengar Lagi Maha Dekat.

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Juz Awwal, edisi Indonesa Fatawa bin Baz, Penulis Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, terbitan At-Tibyan – Solo]

KAKAK SAYA SELALU MEMPEROLOK-OLOKAN KARENA SAYA BERPEGANG TEGUH DENGAN AGAMA



Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin


Pertanyaan.
Saya mempunyai seorang kakak dan ia seringkali memperolok-olokkan saya sembari mengatakan tentang saya bahwa saya ini orang munafiq dan jika saya tinggal sendirian di kamar saya sering mendengarkan nyanyian, dan tidak lama saya akan menjauhi agama ini, saya akan terkena penyakit was-was. Walaupun saya sudah lama menasehatinya akan tetapi ia tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat. Maka apakah yang harus saya lakukan terhadapnya. Mohon bimbingan –Jazakumullah khairan- ?

Jawaban.
Anda wajib untuk tidak berputus asa akan keshalihannya atau kebaikannya (kelak). Karena sesungguhnya banyak manusia yang dahulunya tidak benar amalan-amalannya, kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan hidayah kepada mereka. Maka perbanyaklah memberikan nasehat kepadanya, hadiahkanlah beberapa kaset dan buku-buku kecil yang menandung nasehat, mudah-mudahan Allah memberinya hidayah lewat tangan anda. Telah tsabit dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau berkata kepada Ali bin Abi Thalib.

"Artinya : Sungguh jika Allah memberi hidayah denganmu seorang, maka itu lebih baik bagimu daripada seekor unta merah"

Maka ulang-ulangilah menasehatinya dan bersabarlah atas gangguan yang menimpa anda, sebagaimana yang dikatakan Luqman kepada putranya.

"Artinya : Hai annaku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)" [Luqman : 17]


[Disalin dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyah Dhawabith wa Taujihat, edisi Indonesia Panduan Kebangkitan Islam, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, terbitan Darul Haq]

BAGAIMANA BERGAUL DENGAN KELUARGA YANG TIDAK MENGERJAKAN SHALAT



Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Baz


Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : DI rumah keluarga suami yang saya tinggali terdapat saudara-saudara suami yang mengerjakan shalat tetapi sangat jarang sekali. Mereka biasa duduk-duduk sekalipun imam telah shalat. Maka apa yang harus saya perbuat, sementara saya bukanlah termasuk mahramnya. Apakah saya mendapatkan dosa karena tidak bisa menasehatinya ?

Jawaban.
Jika tidak melaksanakan shalat maka ia berhak mendapatkan boikot. Jangan menyalaminya, jangan menjawab salamnya sampai ia bertaubat. Karena meninggalkan shalat adalah kekafiran yang besar, sekalipun ia tidak mengingkari akan kewajibannya. Ini merupakan pendapat yang kuat dari dua pendapat ulama. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkannya maka sungguh ia telah kafir” [1]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda.

“Artinya : Pembatas antara seseorang dengan kekufuran dan kesyirikan adalah meninggalkan shalat” [2]

Adapun jika ia menolak kewajibannya maka ia kafir berdasarkan ijma’ (kesepakatan) ulama. Wajib bagi keluarganya untuk menasehati dan memberikan boikot kepadanya jika ia tidak mau bertaubat. Keluarganya juga wajib mengadukan perkara tersebut kepada Ulul Amri (pemerintah) agar diminta untuk bertaubat [3]. Jika tidak maka ia dibunuh. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan” [At-Taubah : 5]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Aku dilarang untuk membunuh orang yang mengerjakan shalat”

Dalil diatas menunjukkan bahwa siapa yang tidak melaksanakan shalat tidak dilapangkan jalannya (maksudnya : tidak dibiarkan bebas berbuat sekehendaknya,- pent) dan tidak ada larangan untuk mengeksekusi orang seperti itu jika permasalahannya telah disampaikan kepada Ulul Amri tetapi masih juga tidak bertaubat. Allahlah penolong dan pemberi taufiq.

[Fatawa Ma’rah I/11 – Riyadh]


[Disalin dari majalah Fatawa Vol. 08/Th I/1424H-2003M]
_________
Foote Note
[1]. Ahmad dan Ashabus As-Sunnan dengan sanad yang shahih
[2]. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya
[3]. Ini jika terdapat atau telah diterapkan hukum Islam